Rabu, 01 Februari 2017

Obsesi jadi Engineer


     SEMANGAT membuat sesuatu yang bermanfaat, Widyatna Maharani Putri memiliki obsesi menjadi engineer. Engineering adalah suatu ilmu keteknikan yang dipraktikan ke dalam kehidupan untuk mempermudah dalam melakukan sesuatu.

     Alasan menarik diungkapkan perempuan asal Perum Pancoran yang kini mendapat beasiswa di SMA Sampoerna Akademi Bandung ini. Dia memilih menggantungkan cita-cita menjadi engineer karena ingin mengubah dunia terutama Indonesia agar lebih maju. "Engineering mampu mengatasi permasalahan yang ada disekitar kehidupan sehari-hari dari hal yang kecil hingga yang besar," jelasnya.



Jadikan Asrama Rumah Kedua

    Alasan lain adalah adanya kesempatan berkariri yang lebih luas. Dia memandang jika tidak banyak orang yang memiliki keinginan menjadi engineering. Karena itu, tentunya dengan sedikit peminat maka akan besar peluang karir di masa depan.

     Dijelaskan , aplikasi kreativitas engineering yang ingin dibuatnya salah satunya dalam bidang pendidikan. Dirinya ingin memperbaiki teknologi khusus bidang pendidikan sehingga para guru dan siswa lebih mudah melakukan kegiatan belajar mengajar. "Membuat hal baru yang belum pernah ada sebelumnya," jelas putri dari Martin Zulkarnain dan Lilis Hariyati ini.

     Karena itu, dia menyukai pelajaran matematika. Banyak rumus dan aljabar yang dia pelajari. Kemenarikan matematika adalah ketika bisa memecahkan sebuah soal. Menurutnya prosesnya itu adalah tantangan.

     Dia sangat bersyukur saat ini berhasil mendapatkan beasiswa di Akademi Sampoerna. Tahun ajlan ini, dia merupakak siswa di SMA Akademi Sampoerna. Harapannya di sekolah baru itu, dia mendapatkan ilmu dan pengalaman yang lebih tinggi dan bisa menyerap semua ilmu yang diberikan.

     Banyak hal menarik yang dialaminya. Misalnya saat pertama kali masuk. Dia mendapatkan sambutan hangat dari kakak kelasnya,. Selain itu, orientasi di sekolah itu tidak seperti lainnya. Sebab lebih pada adaptasi di asrama. "Pertama saya heran, di Asrama Kinasih yang saya tempati adalah resort yang dimodifikasi menjadi asrama," jelasnya.

     Tentunya di tempat baru itu, dirinya sempat merasa kangen dengan keluarga. Namun karena sudah meneguhkan diri untuk menimba ilmu, asrama menjadi rumah kedua baginya. Sehingga harus kuat menghadapi rasa kangen rumah dan keluarga untuk menempa diri menjadi lebih baik.

     Untuk awal, keguatannya sangat padat. Hanya saja, ada program take a nap. Yakni siswa maksimal berkegiatan sampai jam 15.00. Setelah itu harus tidur siang selama satu jam. Barulah setelah itu mengikuti kegiatan lainnya.

     Untuk semester satu, digunakan kurikulum pearsen. Kurikulumnya fasttrack. Dengan sistem ini, pada kelas XI, siswa bisa mengikuti UN dengan ikut Paket C. Dan saat kelas XII, seorang siswa sudah memulai penjurusan kuliah. "Prinsip saya meski hidup tak sempurna, tapi indah begini adanya, jadi semuanya mengalir," tandasnya. (hud/wah)



Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Kamis, 15 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar