ORANG tua menjadi faktor penting untuk kuliah anaknya. Tak hanya dari sisi ekonomi saja, lebih adari itu orang tua harus dukung anaknya kuliah dan orang tua harus punya wawasan lebih terhadap perguruan tinggi. Onilah pengalaman Aulia Rafikasari saat berkunjung ke sekolah di Bondowoso.
Ajak Kuliah di Kampus-kampus Ternama
Aulia mahasiswa Fakultas Kesehatan Unair Surabaya, beberapa hari kemarin berkunjung ke SMAN di Bondowoso untuk sosialisasi lomba kesehatan internasional antar siswa SMA. Dari pengalaman ini, setidaknya dia paham problem siswa Bondowoso yang ingin lanjut ke perguruan tinggi.Ucha panggilannya saat soialisasi dari kelas ke kelas ada yang membuat beda dari daerah lain. Yakni maslah antusias mereka terhadap lomba kesehatan tingkat internasional. Bahkan, kata Ucha mereka minder terlebih dahulu sebelum ikut lomba. "Ya istilahnya mengaku kalah sebelum bertanding," ujarnya.
Sesuatu yang membuat Ucha tergelitik ada siswa yang tak tahu Unair itu dari mana. "Banyak yang tahu sih, tapi banyak yang gak tau Unair itu dari mana. Teman-teman mereka hanya menjawab dari kota, begitu saja," ungkapnya. Bahkan, kata dia, rata-rata motivasi mereka kuliah hanya di Jember saja. Tidak sampai ke Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, ataupun Bogor yang punya kampus negeri ternama. Mendengar itu jelas Ucha sempat kaget sebab Unair jadi kampus selalu jadi favorit siswa di Jatim. mengetahui problem perguruan tinggi siswa di Bondowoso tak lain dari ngobrol-ngobrol ringan dengan guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN Prajekan. Dalam perbincangan tersebut salah satu faktor penghambat tak meneruskan ke perguruan tinggi adalah dari orang tua.
Tak hanya sekedar masalah finansial keluarga saja jadi penghambat mereka meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Tapi banyak diantarnaya siswa setelah lulus dinikahkan. Selain itu, ucap Ucha, tak kuas anaknya kuliah jauh-jauh. "Kalau mau kuliah tak boleh jauh-jauh di Bondowoso saja, atau paling jauh di Jember," ujarnya. Inilah yang menjadi penghambat pelajar tak mneruskan cita-cita masuk kampus ternama.
Menurut alumnus SMAN 1 Jember ini, bisa jadi orang tua seperti itu wawasan terhadap perguruan tinggi ini rendah. Sehingga, kata dia, pihak sekolah tidak hanya memberikan wawasan perguruan tinggi ke murid, tapi juga beri ke wali murid mereka.
Murid dan wali murid Bondowoso sebaiknya harus lebih semnagat lagi ke dunia kampus. Sebab, waktu dan jarak yang membuat mereka kalah dengan anak kota. "Jika pelajar di perkotaan, tes perguruan tinggi dekat di kotanya sendiri," imbuhnya.
Ucha yakin siswa di Bondowoso ini punya kompetensi bersaing untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Sebab, di FK Unair saja tak sedikit dari Bondowoso. "teman satu angkatan saya juaga ada dari Bondowoso," papr mahasiswi angkatan 2015 itu.
Agar semangat dan motivasi lebih siswa Bondowoso kuliah di kampus ternama juga harus ada peran serta mahasiwa asal Bondowoso juga. "Mereka yang kuliah di kampus ternama, saat liburan sebaiknya sosialisasi kuliah itu seperti apa ke adek-adek SMANnya," imbuhnya.
Selain itu pemerintah juga harus tahu paguyuban mahsiswa siswa asal Bondowoso yang ada di daerah-daerah. Sehingga, ketika mereka itu pulang ke Bondowoso ada wadah mereka berkumpul untuk kemajuan Bondowoso. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen, 22 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar