DUNIA tari tak asing bagi Linda Fatmawati. Dia tiada ada bosan-bosanya di seni tari, mulai dari SD,SMP,SMA hingga usai lulus sekolah pun tetap menari. Meski, saat ini disibukkan bekerja di bagian operasi dan pemeliharaan Dinas Pengairan Bondowoso, ketertarikan seni tari tak luntur.
Bagi dia menari tak sekedar seni saja, tari bagi dia sesuatu yang lebih. Bisa membuat bahagia, menyehatkan, juga larut dalam menghayati leluhur bangsa ini.
Bangga Tarian Tradisional tetap Eksis
Dia mengaku tertarik di seni tari sebetulnya tidak dari SD, tapi sebelum masuk sekolah setiap ada pertunjukkan tari dia pun ingin menjadi penonton di barisan pertama. "Untungnya di SD ada ekstra kulikulertari, jadi langsung ikut," ungkapnya.Belajar sedikit-demi sedikit akhirnya dia menjiwai apa itu menari. Bahkan, saat suntuk atau marah dia memilih menari untuk menghilangkan semua itu. "Namanya sudah senang, secapek apapun tetap menikmati," jelasnya.
Berbicara tari saat ini lebih berkembang, jika dulu melulu tradisional kini sudah modern lagi atau yang disebut dance. Linda pun juga pernah terjun ke dua tari tersebut. "Ya pernah belajar tradisional dan modern," paparnya. Sepanjang bergelut di dunia tari, perempuan kelahiran Bondowoso 1993 ini memilih tari tradisional dari para tari modern.
Pertanyaan pun muncul mengapa lebih memilih tradisional dari pada modern, padahal tari modern, padahal tari modern ini tren di kalangan anak muda. Linda pun menjawab dengan penuh seksama, karena setiap gerakan tari tradisional ada makna yang terjadi di masyarakat Indonesia.
Alumnus SMAN Tenggarang ini mencontohkan tari petik kopi. Gerakan-gerakannya pun bermakna petani kopi ini mulaimerawat kopi, memanen hingga memilih kopi. Selain ini juga ada tari ojung di kembali dipertontonkan saat Harjabo, Sabtu kemarin. Tari ojung pun dalam kehidupan masyarakat Bondowoso juga ada, yakni tradisi meminta hujan. "Semua tari tradisional itu ada di kehidupan masyarakat. Ini membuat beda dengan tari modern," ujarnya.
Jika tari modern, kata dia, asyiknya adalah bagaimana memberikan gerakan yang dapat memukau. Tapi untuk tradisional tak sekedar memukau, tapi bagaiman pesan ini tersampaikan ke masyarakat. Dia pun mengaku Bondowoso untuk anak muda lebih memilih tari modern.
Namun beranjak SMP hingga SMA, mulai beralih. Selain faktor usia yang muda ingin mencoba yang baru, tapi adafaktor tidak ada media untuk mereka belajar tari tradisional. Dia mencontohkan ekstrakulikuler tari tradisional tetap eksis, salah satu perlu peran sekolah dan pemerintahah membuat event.
Ada tari ojung, tari tata dara, tari topeng konah, tari petik kopi bahkan ada singo ulung, membuat Linda itu bangga. Namun, yang jadi Linda cermati adalah tidak ada tari ikonnya adalah gandrung, lantas Bondowoso ini apa. Harapannya cuma satu, agar tari tradisional Bondowoso makin dikenal, tak hanya skala nasional tapi internasional.(dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen, Jum'at 5 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar