
BERORGANISASI adalah panggilan jiwa. Inilah yang ditunjukkan Rumyati warga Desa Kajar, Tenggarang. Mesti usianya tak lagi muda dia tetap aktif dalam organisasi. Tak tanggung-tanggung, dia pun menjabat sebagai ketua anak cabang Fatayat NU Kecamantan Tenggarang.
Rumyati mengenal dunia organisasi sejak sekolah di MTs Al Falah, Tenggarang. "Waktu itu juga Fatayat, tapi hanya ikut kegiatan saja tak se aktif seperti sekarang mengurus organisasi," ungkapnya. Di bangku SMA, dia tak seberuntung teman-teman lainnya. Dia pun harus putus sekolah karena menikah. "Ijazah SMAN saya paket C, karena waktu itu tidak sampai lulus sudah dinikahkan sama orang tua," katanya.
Menikah di usia muda pun tak membuah Rumyati patang arang untuk meneruskan jenjeng pendidikan lebih tinggi dan berorganisasi lagi.
Terbiasa Bangun Pukul 03.00
Dia pun berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan Islam di Universitas At Taqwa Bondowoso. Rumyati kembali aktif di Fatayat karena melihat keadaan sekitar diman pendidikan anak dan keagamaan masih minim. "Kembali aktif ke Fatayat karena ada panggilan jiwa saja melihat anak-anak di Kajar," katanya.
Dia pun mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Raudatul Athfal (RA). Rumyati yang juga sebagai ibu rumah tangga juga merasa beruntung terjun di dunia organisasi didukung olrh suaminya. "Tidak ada perselisihan dengan suami ikut organisasi," paparnya.
Sebagai ibu rumah tangga dan aktif di organisasi, Rumyati sendiri tak ada cara khusus membagi waktu antara keluarga, anak, suami, mengajar serta mengurus organisasi. Simple dan jalani saja inilah yang harus dijalani jika ingin ibu rumah tangga yang juga terjun ke organisasi. Setiap hati Rumyati pun harus bangun pukul 03.00, tak hanya bersiap menjalankan salat subuh semata. Tapi dia pun juga menyiapkan beragam kebutuhan anak untuk berangkat sekolah serta kebutuhan suami yang hendak berangkat kerja, termasuk bersih-bersih rumah.
Menurut Rumyati jika seseorang semakin sibuk apapun itu dan tak meninggalkan tanggung jawabnya, secara otomatis mereka benar-benar memperhitungkan waktu. "Secara tidak langsung punya disiplin waktu," katanya. Bagi dia belajar menjadi disiplin paling mudah adalah lewat seperti itu sehingga rasanya tak ada waktu itu terbuang percuma.
Sebagai ibu rumah tangga yang aktif di organisas, dia pun ingin ibu rumah tangga di Bondowoso juga ikut aktif di apapun organisasi. "Bisa PKK, bisa dharmawanita juga," tambahnya. Sebab, banyak hal bermanfaat mengikuti organisasi.
Berkat ikut organisasi orang yang tak sekolah pun punya wawasan tentang pendidikan, sehingga mereka bisa mengetahui dunia pendidikan untuk anaknya seperti apa. Paling menarik ikut organisasi adalah mendapatkan ilmu yang tak ada pendidikan formal, baik dari SD hingga SMA maupun perguruan tinggi. "Tak hanya ilmu teori saja yang didapat ilmu praktek pun juga mendapatkannya di organisasi," ujarnya.
Tak hanya FAtayat yang digeluti Rumyati, ibu dua anak tersebut juga aktif di Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan Sosial Masyarakat (LP2SM) Bondowoso. Dia yang senantiasa sebagi ibu rumah tangga, mengajar serta berorganisasi kuncinya adalah beribadah. "Ibadah itu tidak hanya salat dan mengaji saja, kerjaan sehari-hari itu juga ibadah," pungkasnya. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Rabu, 28 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar