MENJADI juara menulis cerpen adalah hal yang tidak terlupakan bagi Diah Ayu Anggraini. Juara itu diraih pada 2013 lalu. Dia menjadi juara menulis cerpen berjudul 'Sahabatku Sayang Sahabatku Malang'. Berkat Cerpen itu dia diundang yayasan Kampung Halaman di Dia Lo Gue Art Space, Kemang Jakarta untuk menjadi pembicara.
Kebanggan itu karena dalam acara itu hadir Menteri Pemuda dan Olahraga dan Profesor dari Universitas Indonesia. Tema acara saat itu adalah 63 Juta anak muda guru kita.Selain dirinya ada pembicara yang merupakan anak usia sekolah yang menjadi asisten rumah tangga, ada Miss Tuna Wicara dan ada pekerja Seks Komersial. "Saya yang anak SMA dalam forum itu menjadi pembicara, itu spesialnya ," jelas perempuan asal Jalan kismangun sarkoro, Tamansari.
Kebanggan itu karena dalam acara itu hadir Menteri Pemuda dan Olahraga dan Profesor dari Universitas Indonesia. Tema acara saat itu adalah 63 Juta anak muda guru kita.Selain dirinya ada pembicara yang merupakan anak usia sekolah yang menjadi asisten rumah tangga, ada Miss Tuna Wicara dan ada pekerja Seks Komersial. "Saya yang anak SMA dalam forum itu menjadi pembicara, itu spesialnya ," jelas perempuan asal Jalan kismangun sarkoro, Tamansari.
Dia menjelaskan, cerpen yang mengantarkan dirinya menjadi juara itu bercerita tentang kisah nyata. Yakni tentang adanya fenomena pernikahan usia dini di Bondowoso. alur cerita yang dibuat berawal dari lima sahabat yang sangat dekat. Saking dekatnya, mereka seperti keluarga satu sama lain.
Namun pada suatu saat, tepatnya usia SMP, ada salah seorang sahabat yang mulai menjaga jarak. Sikap seorang sahabat ini mulai berubah, menjauh dari yang lainnya. Disaat sahabat lain mencari tahu akibatnya, tiba-tiba undangan pernikahan menghampiri. "Dalam cerita itu seorang sahabat itu ternyata hamil muda," jelasnya.
Diah menjelaskan, ada pesan yang dipertegas dalam cerpen itu. Yakni adanya seorang remaja yang melakukan pernikahan usia dini. Dimana ternyata ada seba-musabab yang mmaksanya menikah. yakni pernikahan muda." Ini yang menjadi perhatian, bahwa pernikahan dini ini acapkali terjadi di kalangan masyarakat," jelas perempuan kelahiran 29 Agustus 1998.
Dalam seminar itu, dia menggaris bawahi pentingnya pengetahuan pendampingan terhadap seorang anak harus dibekali pengetahuan tentang reproduksi. "Harus tahu, kalau tahu kan bisa hati-hati," jlas alumnus SMKN 1Bondowoso tersebut.
Selain dalam dunia tulis-menulis cerpen, perempuan yang sangat suka bakso ini juga dipilih menjadi Jurnalisme Warga program Kinerja USAID pada 2013. Dengan bkal bisa menulis cerpen, dia mengembangkan diri dalam dunia tulisan jurnalis membidangi kesehatan dan pendidikan. Sehingga sangat nyambung dengan penulisan yang dialami selama ini.
Diah mengungkapkan, kelak kalau sudah besar dia memiliki cita-cita menjadi sastrawamn. Dia ingin bisa seperti kakaknya yang senang menulisa sastra. Selain itu ada dua cita-cita lagi yang juga tercatat dalam benaknya, yakni menjadi motivator dan menjadi penyiar radio.
Cita-cita yang terakhir itulah yang kini ingin diraihnya. Sebab setelah menempuh SMK, dia kini harus parkir karena biaya . Sehingga paling tidak, untuk mengisi waktu, dia kini ingin mengisi waktu,dia kini ingin menjadi di penyiar radio. (hud/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Selasa, 11 Oktober 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar