Sabtu, 04 Februari 2017
Ojung Jadi Bahan Skripsi
OJUNG tak akan dilupakan oleh Oki Feri Juniawan. Berkat tradisi Ojung untuk meminta hujan tersebut, Oki bisa meraih gelar sarjana pendidikan. Sebab, dalam skripsinya mengambil asal usul kesenian ojung di Bondowoso dan fungsinya di masyarakat.
Oki sendiri mengaku saat mengambil judul skripsi dirinya sempat galau. "Ya sempat bingung angkat skripsi tentang apa. Eh ternyata di Bondowoso ada yang menarik dan waktu kecil juga sering liat. Yakni tradisi slametan Desa Blimbing yang ada di ojung serta singo ulungnya tersebut," ungkapnya.
Menurut Oki ojung memang tak hanya ada di Bondowoso saja dan tak hanya ada di Desa Blimbing, Klabang saja.
Kenalkan Budaya Lewat Karya Tulis
Tapi yang bikin penasaran adalah mengapa ritual ojung yang menjadi ritual meminta hujan. Dalam slametan Desa Blimbing beberapa tahun kemarin OKi turut hadir, untuk mendokumentasikan serta menambah data yang belum selesai.
Ritual ojung yang merupakan salah satu tahap dalam upacara adat Ghadhisa dalam bahsa Indonesia bisa diartikan bersih desa atau slametan desa. Ojung pun memiliki cerita asal-usul yang juga juga erat kaitannya dengan pembangunan desa Blimbing. KArena untuk mengairi ladang di Blimbing butuh hujan dan warga pun mengikuti jejak Juk Seng selaku pembabat Desa
Blimbing yang tidak lain sebagai tokoh singo ulung yang melakukan ojung. "Masyarakat percaya apabila dalam ritual tersebut ada darah yang menetes ke tanah, maka dapat dipastikan akan turun huja pada hari itu juga," jelasnya.
Lanjut Oki sebenarnya ojung itu tidak berangkat dari ritual untuk meminta hujan semata. Tapi ojung adalah permainan untuk melatih skill para prajurit perang. Termasuk di kerajaan Majapahit dan Blambangan. "Semisal dulu latihan para prajurit perang itu karate atau silat, bisa jadi ritual meminta hujan adalah karate dan silat bukan ojng," paparnya.
Mengapa pakai ojung, kata Oki, Juk Seng dan istrinya Moena adalah sisa prajurit Blambangan dan tak mau tunduk dengan Majapahit, karena saat itu Blambangan kalah dengan Majpahit. Sehingga mencari pelarian hingga sampai ke Desa Blimbing.
Pria asal Tapen ini tertarik ojung karena tidak ada emosi antara ke dua petarung. "Padahal ya sakit, tapi mereka senang tak ada emosi dan balas dendam. Mulai dari anak kecil hingga dewasa suka main ojung," ujarnya. Bagi masyarakat mitos asal-usul ritual ojung memiliki fungsi sebagai cerminan kepribadian, meningkatkan perasaan solidaritas, memberikan kontrol sosial agar masyarakat berperilaku baik, sarana olahraga, hiburan, uji kekuatan, dan uji mental. "Juga melatih sportifitas warga," jelas alumnus FKIP Universitas Jember ini.
Sebagai wakil 1 Kacong Bondowoso mengangkat ojung dalam skripsinya tersebut termasuk pengabdiannya sebagai Kacong Bondowoso. Menurut Oki, mengenakan sebuah potensi budaya yang ada di Bondowoso tak hanya lewat foto di medsos atau sosialisasi ke khalayak banyak tapi juga lewat sebuah tulisan di skripsi. "Ya bangga skripsi angkat potensi daerah sendiri. Sehingga punya dampak pemuda Bondowoso itu bangga daerah sendiri," imbuhnya.
Semakin banyak orang yang munlis, memfoto dan memposting tradisi ojung, tersebut tentu akan menjadi daya tarik wisatawan baik domestik hingga mancanegara. Sejak aduan sapa tak ada lagidi Bondowoso, menurut Oki rasanya tak ada lagi wisatawan ke Bondowoso karena tradisinya. "Wisatawan ke Bondowoso, rata-rata keindahahn alam Bondowoso. Semisal budaya dan tradisi masyarakat bisa jadi wisata, tentu berwisata di Bondowoso makin lengkap dan tak kalah dengan daerah wisata lainnya," katanya. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Jum'at, 23 September 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar