Senin, 13 Februari 2017

Uniknya Megasari


     LIZ Andriana menjadi buah bibir dalam kejuaran Paragliding Trip of Indonesia (Trol) akhir pekan lalu. Dia adalah salah satu peserta yang pernah menghiasa podium juara dunia. Bahkan tidak hanya sekali, namun tiga kali berturut-turut. Dia menilai puncak Megasari yang ada di Sempol sangat unik. Hal itu karena dirinya tidak mudah menaklukhkan Megasari.

     Perempuan kelahiran Kutai Barat yang kini berusia 32 tahun tersebut bisa dikatakan meniti karir di dunia paralayang cepat mencapai pretasi. Tahun 2006 , atlet asal KAltim tersebut mulai belajar paralayang dan tahun 2017 masuk pelatnas atau tim nasional paralayang.



Berharap Ada Kejuaran di Bondowoso

     "Mulai belajar itu tahun 2006 di Gunung Banyak, Malang dan 2017 masuk timnas," ungkapnya.

    Sedangkan juara dunia dia raih mulai tahun 2012, 2013 dan 2014. Sehingga membuat Liz meneruskan tren perempuan Indonesia yang berjaya di kejuaraan paralayang dunia yang sebelumnya diduduki Ifa Kurniawati 2010 dan Milawati Sirin 2011.

     Banyak negara dan berbagai daerah diterbangi Liz. dia merasa Megasari ini unik dan sulit ditaklukan. Turun di nomor ketepatan mendarat atau Ktm, membuatnya tak mudah mendapat poin nol atau tepat sasaran. Bahkan, dia sempat mendarat di luar lingkaran lokasi pendaratan yang ditentukan. "Didekat titik pendaratan itu ada angin. Saya pasrah saja, sebab saat akan mendarat melebihi lingkaran," paparnya.

     Hal itulah yang membuat Megasari unik dan penuh tantangan untuk menaklukan Megasari, apalagi mereka yang baru belajar. "Butuh jam terbang juga ada faktor keberuntungan di Megasari ini. Karena ada faktor alam yang tak bisa dilawan," jelasnya.

    Ketika ada tantangan seperti itu, menurut Liz Megasari cocok dibuat sebagi tempat menggelar kejuraan tongkat dunia. Bahkan bisa jadi hasil juaranya mengejutkan. "Kalau terbang agak sore masih enak. Tapi kalau siang hari anginnya ini tidak bisa di prediksi," tambahnya.

     Menuju kejuaraan dunia tentu ada hal yang harus dibenahi, terutama akses jalan menuju take od. Dari pengalamannya mengikut kejuaraan dunia setidaknya membutuhkan waktu 20 menit,sedangkan take off Megasari waktu ditempuh sekitar45 menit.

    Paling mengasikkan terbang di Megasari adadlah pemandangan. Dengan ketinggian Megasari yang memanjang tersebut adalah topmarkotop apalagi bisa melihat gunung berapi kebun kopi, dan padang savana. "Rata- rata itu flat, tidak banyak bukit," terangnya.

     Sehingga cocok juga untuk nomor kejuaraan cros country triangle, yakni terbang mengambil tiga titik poin. "kalau cros country terbang jauh-jauhan. saya harus surve dulu, tidak tahu di balik bukit itu flat atau ada bukit lagi," jelasnya. Bondowoso yang punya potensi tempat tembang yang yahud tersebut, Liz yakin akan muncul bibit pilot dari kota bertajuk The High Land Paradise ini. Bisa-bisa sang juara dunia dari Bondowoso. (dwi/wah)

Sumber Jawa Pos - Radar ijen rabu, 19 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar