BAGUS Riskiyah memang bukan politisi ataupun pengamat politik. Tapi, pendapatnya tentang perpolitikan khususnya pedesaan sedikit banyak dia pahami mahasiswi At Taqwa ini. Satu hal politik yang tak dia disukai adalah money politik.
Menurut dia, pendidikan politik politik politik memang tidak seperti orde baru, kini banyak orang yang paham bahkan orang pedesaan yang setiap hari ke sawah tahu informasi tentang perpolitikan.
Mahasiswi jangan Cuma Sekedar Kuliah
Sayangnya pendidikan politik masyarakat khususnya di desa itu buruk gara-gara uang. Ya saat momen pemilu legislatif, presiden, pilkada dan pilkades pun money politik pun kental rasanya.Menurut dia, money politik ini pembodohan masyarakat. Mereka diajak memilih uang bukan memilih tokoh. Pengalaman hidup di Desa Ambulu, Wringin, orang yang kenal kapabilitas calon pemimpin pun bisa bergeser ke calon lain gara-gara uang. Meski demokrasi di Indonesia sudah berjalan belasan tahun, tetap saja masyarakat memilih atau mencoblos karena uang yang didapat. "Sekarang ya tetap begitu, paling tidak berkurang sedikit. Mana yang memilih dari hati dan memilih karena uang," ujarnya.
Menurut dia, alngkah baiknya masyarakat ini kembali ke kearifan lokal. " Pilih jodoh saja harus tahu tahu bibit, bebet, dan bobotnya. Sebaiknya memilih pemimpin juga begitu bukan karena uangnya," terangnya. Perempuan 19 tahun ini menjelaskan, money politik secara tidak langsung mereka hanya diajak mikir jangka pendek saja tidak jangka panjang. Pada hal namanya pembangunan dan kesejahteraan warga itu jangka panjang dan perlu turut serta peran masyarakat.
Riskiyah berharap warga lebih berfikir ke depan siapa yang akan dipilihnya nanti. Apa bisa mensejahterakan warga, contohnya saja bagaimana pembangunan jalan ataupun pembagian raskin. "Desa Ambulu dari dulu jalannya rusak, raskin pun ya telat-telatan," tambahnya.
Berani berargumentasi untuk memilih yang baik didapat riskiyah dari organisasi setidaknya ada perbedaan saat jadi siswa dan mahasiswa. "Kalau saat jadi mahasiswa itu sama saat masih sekolah ya sama," ujarnya. Sehingga, kata dia, bukan jadi mahasiswakupu-kupu, kuliah pulang tapi jadilah kura-kura kuliah tapat.
Meski, dia jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) setidaknya tak mau kalah dalam hal kemasyarakatan dengan mahasiswa jurusan lain. Dia mengakui ikut organisasi ekstra banyak orang berdekatan dengan politik, sebetulnya bukan itu. Tapi berkat ikut organisasi mengetahi mana yang baik diantara yang baik, berani menyuarakan pendapat dan paling penting tidak mudah dibodohi tentang politik. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen 24 Oktober 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar