Jumat, 17 Februari 2017
Aktivis itu Nasionalisme
MENJADI aktivis tidak adadalam benak Afrika Duri saat duduk di bangku SMA. Setelah masuk ke kampus At Taqwa, dia gabung organisasi ektra dan meraskan enaknya jadi aktivis. Bukan untuk diri sendiri tapi bangsa.
Momen hari sumpah pemuda pada 28 Oktober kemarinmenyerukanmakna sumpah pemuda dan sebagai pemuda jangan mudah bercerai berai gara-gara perbedaan agama, budaya, daerah, hingga hobi. "Gara-gara hobi saja bisa bertengkar," terangnya.
Organisasai Bikin Kita Percaya Diri
Padahal. katadia, pemuda dulu dengan kesulita jarak untuk berkomunikasi mereka bersatu dengan tujuan satu yakni kemerdekaan. Dia pun berharap meskipun banyak pemudayang tergabung komunitas hobi harus bersatu untuk masalah yang mengganggu kedaulatan bangsa. Perempuan asal Grujugan tersebut salut dengan suporter sepak bola. Jika, saling suporter klub bertengkar hingga tawuran tapi saat timnas bertanding mereka ini bersatu dan bersama-sama dukung tim garuda.
Afika mengatakan saat masih sekolah tak ada bayangan bahwa seorang mahasiswa itu sampai orasi hingga demo. "Setau saya mahasiswa itu seperti sekolah," terangnya. Ternyata menjadi mahasiswa seutuhnya tidak sekedar belajar dan kuliah, tapi juga kontribusi terhadap masyarakat dan bangsa.
Peremmpuan 20 tahun ini mngaku setelah ikut organisasi tak hanya dappat ilmu keorganisasian tapimerubah cara pandang terhadap suatu hal. "Berkat organisasi itu bukan berbicara aku tapi kami, sehingga buka egois lagi yang dikedepankan," tambahnya.
Bnayaknya mahasiswa yang orasi atau demo di jalan raya bagi Afika adalah bentuk kepedulian terhadapkondisi negara ataupun masyarakat. Sehingga, mahasiswa demo jangan dianggap sebelah mat. Jika, memilih memang lebih enang nongkrong di cafe daripada ikut demo,sudah kepanasan belum lagi kena marah.
Menurut dia, mahasiswa yang tempat tinggalnya di pedesaan alangkah baiknya ikut organisasi mereka ditempa untuk berani mengemukakan pendapat. Sehingga saat kembali ke kampung halaman dia bisa memberikan pendapat untu kemajuan desanya. Selain itu, tambah dia, banyak teman dan mempermudah ergaul. "Rata-rata orang desa ini minder berjumpa dengan orang kota, lewat organisasi inilah membuat mereka percaya diri,"pungkasnya. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Senin, 31 Oktober 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar