Senin, 27 Februari 2017

Lestarikan Hutan Bersama


FUNGSI hutan amatlah penting bagi kehidupan du muka bumi ini, termasuk untuk manusia yang ada di dalamnya. Dasar inilah yang ada didalamnya. Dasar inilah yang membuat Moh Ajib, Waka Perhutani Situbondo KPH Bondowoso konsen terhadap keamanan hutan di wilayah perhutani KPH Bondowoso. Merangkul elemen masyarakat untuk bersama-sama melestarikan  dan menjaga hutan.
Ajib menjelaskan fungsi hutan itu banyak. Yang paling dirasakan bagi kehidupan diantara, penghasil oksigen dan penyerap karbon dioksida atau lebih dikenal sebgai paru-paru dunia.

Salut Dengan Masyarakat Bondowoso

"Kalau gak ada hutan, gak kebayang bagaimana manusia bernafas. KArena manusia itu menghirup oksigen," ujarnya.
Selain itu fungsi hutan juga sebagai sumber ekonomi. Diantaranya kayu yang untuk rumah dan lainnya. Namun, Ajib menggaris bawahi, kayu yang dimaksud berada di hutan produksi bukan hutan lindung. Untuk masyarakat Bondowoso pun juga merasakn sumber ekonomi berkat kopi yang ditanam di hutan.
Fungsi hutan juga sebgai habitat flora fauna. Penyimpanan mata air atau sumber mata air, mencegah terjadinya bencana. "Hutan lestari bencana tanah longsor dan banjir bandang pun bisa dihindari," ucap Ajib.
Dalam menjaga keamanan hutan agar terus lesari, Ajib juga akrab dengan masyarakat. Tak hanya masyarakat sekitar hutan, tapi juga LSM, awak media, tokoh agama, Forpimda, dan Muspika. Hal itu dilakukan sebagai strategi untuk bagaiman bersama-sama menjaga dan Muspika. Hal itu dilakukan sebagai strategi untuk bagaiman bersama-sama menjaga dan melestarikan hutan.
Ajib pun sadar hutan punya potensi gangguan sosial dan ilegal logging. Jika warga bersama menjaga hutan akan terasa lebih mudah mengatasi gangguan sosial tersebut. "Sekuat apapun pagar dan keamanan rumah, pasti maling bisa membobol. Keamanan paling hebat itu ada di masyarakat," paparnya.
Merangkul elemen masyarakat tersebut adalah startegi prevntif. Yakni suatu pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah kejadian yang belum terjadi. Atau merupakan suatu usaha yang dilakukan sebelum terjadinya suatu pelanggaran. Pria yang bertugas di Perhutani sejak 1994 ini juga ada strategi reprensif. Yakni suatu oengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya suatu pelanggaran.
Ajib yang pernah bertugas di KPH Banyuwangi Barat, Jombang, Mojokerto, dan Randublatung mengaku salut dengan masyarakat Bondowoso yang bersama-sama menjaga hutan. "Orang Bondowoso sekarang sadar berkat hutan mereka sejahterah," imbuhnya. Karena, makin tahu hasil kopi yang berkualitas ditanam dibawah tegakan.
Sehingga petani kopi rakyat Bondowoso yang sering keluar masuk hutan, tidak merusak hutan dan mereka pun akan melawan jika ada orang yang hendak merusak hutan. "Klaau ada pohon ditebang tidak hanya Perhutani yang marah. Petani kopi juga marah, karena nanti pohon tersebut bisa merusak tanaman kopi," pungkasnya. (dwi/wah)




Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen, 23 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar