Jumat, 03 Februari 2017
Pernah Jadi Duta Tari
DUNIA tari menjadi halbaru bagi Oktavia Dwi rahmawati. Pelajar SMAN 2 Bondowoso ini mengenal seni tari sejak masuk SMPN 2 Bondowoso. Meski begitu keahliannya menari sudah tidak diragukan lagi. Sebab Oktavia pernah menjadi duta tari Bondowoso tahun 2015 lalu.
Remaja asla Tamansari ini mengaku, bergelut di dunia tari sejak duduk di bangku SMP punya berbeda jauh dengan hobiyang ditekuni sejak SD. "Sejak SD main bulutangkis terus masuk SMP hingga SMA keterusan menari," ujarnya.
Meski tari mengararkan dia menjadi duta tari, Oktavia merasa bersyukur pernah bergelut di dunia olahraga. "Paling tidak gak capek kalau menari dan sudah biasa tampil dilihat banyak orang serta berkompetisi," ujarnya. Hingga samapi saat ini, skill bulutangkisnay tetap dipakai di Olimpiade Olahraga Sains Nasional (O2SN) tingkat Bondowoso dan Pekan Olahraga Pelajar daerah (Popda).
Sukai Tari Tradisional
Oktavia sendiri pun heran mengapa dirinya begitu senang dan terasa begitu menjiwai seni tari. "Padahal keluarga tidak ada yang menari, rata-rata olahraga," ujarnya. Dari sana dia pun berfikir, jiwa seni, jiwa olahragawan ataupun jiwa kepemimpinan tidak muncul karena keturunan, melainkan sebuah proses. Sehingga, kata dia, anak-anak yang tak punya keturunan seniman jangan minder ketika ingin menjadi seniman.
Berbicara tarisecara mudah dibagi menjadi dua, tari modern dan tradisional. Oktavia pun memilih jenis tari tradisionalketimbang modern. Sebab, di tari tradisional memakai kerudung masih diperkenankan. Sementara di tari modern jarang ada yang berkerudung. "Ya senang saja melihat tari tradisional dari padamodern," ujarnya. Menyukai tari tradisiona, tentu menjadi bekal baik untuk melestarikan tari tradisional yang berasaldari Indonesia serta Bondowoso sendiri.
Menurut Oktavia tari modern itu membutuhkan tenaga lebihdari pada tradisional. "Tari modern itu cepat capek,karean gerakannya cepat," ujarnya. Meski tradisional gerakannya lambat dan lembut, jangan salah juga belajar tari tradisional juga butuh proses. "Tari tradisional juga butuh skill gerakan-gerakan tari. Kalau gak punya skill gerakan tarinya kaku," imbuhnya.
Remaja berkerudung tersebut mengaku tari tradisional memiliki tantangan besar. Sebab ada perkembangan jaman yang kian modern. Sehingga banyak yang meninggalkan hal berbau tradisional. Menurut Oktavia bersyukurlah menjadi orang Bondowoso, karena punya tari khas. "Ada tari petik kopi, molong kopi, tari topeng konah, tari tata dara dan banyak tari lainnya," imbuhnya.
Oktavia pun mengaku di beberapa tari tradisional Bondowoso, tak jarang masyarakat Bondowoso sendiri tak tahu jenis tari tradisional yang sering tampil khalayak umum. Sehingga perlu meningkatkan kesadaran masyrakat Bondowoso sendiri. Salah satunya adlah perlu peran sekolah, pemerintah, dan inovasi para pegeliat tari tradisional. Lewat sekolah adalah membentuk ekstrakulikuler tari tradisional, sementara dari pemerintah sebaiknya melibatkan tari tradisional setiap acara ataupun setiap ada tamu undangan.
Tak hanya itu saja semakin banyak lomba tari tradisional, tentu menaikkan rasa bangga mereka yang konsen di dunia tari tradisional tersebut. Oktavia pun mengaku selam ini penenrus tari tradisional itu minim. (hud/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Rabu, 21 September 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar