SURGA ada ditelapak kaki ibu, ungkapan inilah yang berati bahwa orang tua itu penting bagi kehidupan. Demikian pula untuk Friska Pradasari yang yakin sesuatu dari orang tua itu mendapatkan barokah. "Tak hanya pemberian baraang yang barokah, perkataan orang tua juga barokah," jelasnya.
Orang Bondowoso harus Bermartabat
Hinga usia 22 tahun, Friska tetap menerima apapun nasehat dari orang tuanya. Bahkan, dia rela meniadakan cita-citanya sebagi pramugari karena nasehat orang tua lebih baik di Bondowoso saja. "Cita-cita pramugari, tapi dari orang tua tidak boleh jadi pramugari dan lebih baiktetap di Bondowoso," ungkapnya.Kesal pati dirasakan Friska, karena tak boleh meneruskan sekolah pramugari ke luar kota. Dia pun yakin nasehat orang tua tersebut membuah dia sukses. "Orang tua itu dari kecil merawat kita, setiap doanya pun pasti untuk anaknya, Sehingga sebagai anak jangan membantah orang tua, pasti ada pintu kesuksesan dibalik itu," katanya.
Tentu sebagai orang tua juga harus fleksibel cara untuk menasehati buah hatinya. "Harus tahu fasenya perubahan anak, mulai dari masa ank-anak, remaja, hingga dewasa. Apalagi saat remaja. Apalagi saat remaj masa-masa yang rentang terhadap sesuatu yang baru," paparnya.
Agar anak tidak merasa kesal terhadap nasehat orang tua, kunci yang tak kalah penting adalah jalinan komunikasi antara keluarga. Ya melihat kenakalan remaja, tidak seratus persen dari salah pergaulan tapi juga ada faktor dari keluarga. "Istilahnya broken home," ujarnya. Apalagi kondisi saat ini ayah dan ibu banyak yang bekerja. Sehingga, waktu untuk keluarga kurang. "Sesibuk-sibuknya orang tua jalin komunikasi setiap hari dan biasakan itu sejak kecil," jelasnya.
Selama ini namanya anak kuper dan kutu buku selalu nurut apa kata orang tua. Sedangkan, anak yang gaul lebih banyak yang membantah kata orang tua. "Anak penurut orang tua tak selalu jadi anak kuper. Jadi orang tua juga harusmemahami perubahan anaknya yang telah tumbuh jadi dewasa agar tidak kuper," imbuhnya. Sudah pasti anak harus dibekali ilmu keagamaan.
Friska mengaku sejak menetap di Bondowoso, masalah permasukan tidak kurang. "Alhamdulillah cukup, itu juga karena orang tua," katanya. Dia pun juga ada pemasukan sebagai penyanyi dan perias. Kegiatan tersebut pun tak membuah dia jenuh, suntuk meskipun capek.
Perempuan asal Badesan ini, menyanyi adalah hobi sejak kecil. Dia pun mulai belajar di dunia tarik suara sejak MSP dan memetik perhatian para pemusik Bondowoso untuk dipakai sebagai vokalis vokalis saat masih duduk dibangku SMA. "Kalau merias ini mengaplikasikan ilmu di sekolah," ucap alumnus SMKN 2 Bondowoso jurusan kecantikan ini.
Dia pun berharap untuk Bondowoso ini sesual dengan moto dikotanya, yakni Bondowoso bermartabat. Bermartabat dari anak-anak Bondowoso yang mematuhi nasehat orang tuanya. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen , 10 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar