Selasa, 31 Januari 2017
Weekend Rutin ke Bondowoso
KOTA nan sejuk ini sudah tidak asing bagi Nafisa. Perempuan asal Antirogo,Jember tersebut setiap weekend selalu menyenanglan ke Bondowoso. Bukan karena ada sanak saudara, tapi untuk refresing plus menikmati kuliner di Bondowoso.
Ya tujuan utama ke Bondowoso adalah menikmati sajian makanan nikmatnya. Bagi orang pecinta kuliner perbadingan Bondowoso denga Jember, banyak yang memilih lebih nikmat kunileran di Jember.
Rugi kalau tidak Naik Gunung
Menurut nafisa, kuliner tak melulu soal rasa, tapi juga lihat harganya. "Kalu makanan nikmat itu mahal sudah biasa. Banyak yang temukan mahal tapi enak dan enak tapi mahal," paparnya. Namun di Bondowoso ini murah-meriah tapi rasanya nikmat.
Sehingga hakekat kulineran bagi Nafisa adalah harganya warung rasanya restoran. Seperti dikatakan dalam teori ekonomi, dimana mencari barang semurah-muarahnya untuk tingkat kepuasan setinggi-tingginya. Mendapatkan makanan enak dengan harga murah pun punya cerita yang akan dikenang, apalagi bisa memberikan rekomendasi ke teman-teman. "Makan makanan enak tingga duduk makan dan membayar tidak ada seninya," ujarnya.
Dengan kondisi geografis bondowoso adem, rindang, sejuk ditambah bebas kemacetan menambah kenyamanan menikmati santap makanan. Mahasiswa Politeknik Jember (Polije) program studi rekam medis ini menuturkan di Bondowoso punya makanan khas tape yang punya daya tarik tersendiri.
Tak hanya menarik konsumen, juga magnit bagi daerah lain seperti Jember dan Situbondo untuk membuat tape. Apalagi, tapenya terbungkus dari besek bambu membuat cita rasa tradisional serta punya multiplier efek. Yakni, memberikan lapangkan pekerjaan. "Kalau tape terbungkus kardus , pabrik yang untung kerdusnya laku. Sedangkan besek itu dibuat manual tangan," ujarnya.
Menariknya Bondowoso adalah wisata gunungnya. Ya untuk daerah Jember dan Situbondo berwisata daerah pegunungan tentu pilihannya ada di Bondowos. Gunung yang paling diminati adalah Gunung Ijen dengan blue fire-nya dan danau berwarna biru tisca menjadi daya tarik lebih.
Mendaki kawah Ijen, kata dia, pasti capek. namun, dibalik itu semua ada nilai lebih dari pada ke puncak gunung dengan kendaraan. Jika mendaki dengan sahabat atau pacar, ada ujian dibalik itu. Apa itu, yakni ketulusan. "Mendaki gunung bisa tahu apakah teman itu egois, tidak mau membantu, manja, tolong menolong, ataupun tak mau menyusahkan kawan," jelasnya.
Sehingga, kata perempuan 22 tahun ini, di saat masih muda rugi kalau tidak naik gunung. "Minimalkan satu kali naik gunung, mumpung masih muda," ujarnya. Sebab, jika sudah tua fisiknya sudah turun dan belum tentu kuat sampai ke puncak. Anak muda yang pernah naik gunung pun, pasti merasakan kekuatan itu sangat kecil lebih besar kekuatan alam semesta ini yang diciptakan tuhan.
Keindahan alam pegunungan di Bondowoso atau tepatnya di Kecamatan Sempol, tak hanay Ijen saja. Tapi sudah ada beberapa destinasi wisata dibuka, seperti Kawah Wurung, Air terjun gentongan , busa serta banyak yang share ke medsos taman bunga dan taman ilalang dan semua itu ada di Bondowoso.
Rasanya ingin foto selfie ke tempat wisata di Sempol satu hari saja tak cukup, perlu dua hingga tiga hari menyusuri tempat indah. "Itu hanya di Sempol belum lagi lainnya," ujarnya. Terpenting bagi Nafisa masyarakat setempat memberikan rasa aman dan nyaman saja bagi wisatawan dan itu sudah lebih dari cukup. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Selasa, 13 September 2016
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Selasa, 13 September 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar