Senin, 30 Januari 2017
Guru Harus Disukai
TUGAS sebagai seorang guru tak hanya sebatas mengajar dan mendidik saja. Itulah pendapat Fitri Fatmawati Rosalin. Perempuan yang saat ini berprofesi sebagai Guru di SMP Al Muhibbin ini mengaku, tugas guru lebih dari mengajar dan mendidik, melainkan bagaimana seorang guru bisa disukai murid.nya. Sebab ketika suka, maka akan mudah menerima pelajaran. Apalagi saat mengajar pelajaran yang kebanyakan tidak disukai. Pelajaran apa itu yakni, matematika. Pelajaran berhitung-hitung tersebut menurut Fitri sebenarnya tidak susah dan bukan pelajaran yang harus ditakuti siswa. "Tergantung gurunya saja, kalau bisa membawanya dengan baik dan disukai muridnya, maka matematika bukan pelajaran yang menakutkan, bahkan justru menyenangkan," paparnya.
Jelaskan Pakai Logika
Semisal guru matematika itu galak, kata dia, tentu banyak murid yang menhindar. Menurut dia tentu berbeda dengan mengajar di sekolah dengan mahasiswa. Mahasiswa bisa suka pelajaran A, meski dosennya galak. Namun untuk siswa, ketika menyukai pelajaran A biasanya karena faktor gurunya yang enak dan mengasyikkan.
Perempuan asal Jl MT Haryono itu menjelaskan, agar matematika itu mengasyikkan tentu perlu kreatifitas guru dalam menerangkan pelajaran tersebut. "Matematika benar pelajaran logika, tapi untuk usia-usia SD dan SMP ya lebih baik belajar sambil bermain. Mereka lebih cepat memahami. Jadi guru gak hanya ceramah saja, " ujarnya.
Bentuk kreatifitas guru matematika, menurut alumnus IKIP PGRI Jember ini, adalah membuat media pembelajaran. "Matematika juga bisa buat media pembelajaran, tidak hanya Bahasa Inggris," ucapnya. Salah satu media pembelajaran yang paling mudah diterapkan adalah pelajaran ruang dan bangun.
Dalam pelajaran itu, kata Fitri, siswanya harus membawa benda apa saja yang ada di sekitarnya atau membawa dari rumah. " Ada yang membawa kaleng, batu bata, ada pula membawa kardus berkas," jelasnya. Kaitanyya itu menjelaskan menghitung luas, keliling, itu apa, Fitri meminta muridnya mengelilingi kelas dengan menghitung banyak langkah kaki mengelilingi kelas itu.
Dari sana , kata dia, lebih memahami sebuah makna keliling sehingga saat ada soal menghitung keliling sebuah bangunan, siswanya tak perlu takut jika tak hafal rumus. "Rumus keliling persegi panjang adalah panjang kali lebar. Semua panjang sisi ditambah itu sama saja. Rumus hanya mempermudah, nama panjang dan lebar persegi panjang juga penamaan saja," paparnya. Sehingga berkat media pembelajaran tersebut siswanya bisa berfikir logis bagaimana menyelesaikan soal runag dan bangunan.
Dia berpendapat matematika memang pelajarang yang logis, tapi tetap ada bebrapa rumus yang harus dihafalkan. Sehingga, kata dia, rumus tersebut juga harus diperhatikan oleh siswa. Bagi dia matematika adalah pelajaran yang harus dikuasai karena masuk pelajaran dasar. "Maka nya kalu test perguruan tinggi ada matematika dasar," paparnya.
Perempuan 23 tahun ini menjelaskan matematika selalu ada baik di jurusan IPA atau IPS, bahkan ilmu agama. "Kalau IPA ada pelajaran KImia dan Fisika, IPS ada di pelajaran skala di Geografi," jelasnya. Sementara di ilmu agama, pelajaran matematika ada fora'id sebagai contoh adalah menghitung warisan, dan zakat. Apalagi matematika juga digunakan kehidupan sehari-hari, yakni untuk menghitung uang. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Jum'at. 09 September 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar