Kamis, 26 Januari 2017

Jadi Pengusaha Itu Enak


      EMANSIPASI perempuan oleh RA Kartini, sekarang rasanya makin luas saja. Jika dulu permasalahan pendidikan yang dijunjung, kini perempuan berhak untuk bekerja, berkreatifitas hingga jadi pengusaha.

     Bidang usaha yang ditekuni oleh perempuan 26 tahun tersebut tak jauh dari kehidupan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan keilmuannya di bidang kesehatan. Ya alumnus Akbid dr Soebandi, jember ini menjalani bisnis baby spa yang kini lagi hits.

Tenaga Medis tak Harus Kerja Di rumah Sakit dan Puskesmas

     Memilih bisnis baby spa pun ada dua alasan, tidak hanya sekedar jadi hits semata. Pertama punya anak dan pernah jadi tenaga sukwan di puskesmas. Saat memiliki buah hati, sebagai seorang ibu tentu ingin sesuatu yang terbaik untuk anaknya. Sehingga, treatment baby spa pun jadi pilihan Eki agar tumbuh kembang buah hatinya itu baik. "Sering bolak balik Bondowoso-Jember, hanya untuk baby spa agar anak tumbuh dengan baik," ujarnya.

     Pengetahuan tentang baby spa, pun juga dia ketahui di bangku perguruan tinggi. "Diperkuliahan ada pun juga dia ketahui dibangku perguruan tinggi. "Diperkuliahan ada mengenai ada mengenai anak termasuk baby spa," ujarnya. Sehingga dia pun makin yakin bahwa baby spa tersebut baik untuk tumbuh kembang anak. Salah satu manfaat baby spa adalah agar lebih berani terutama terhadap air. "Tidak semua anak itu suka air, yang takut dengan air itu juga banyak. Karena, orang tua tidak membiasakan anak bermain air," ujarnya.

     Faktor yang kedua memutuskan usaha karena sudah capek dengan mengabdi sebagai sukwan puskesmas. "Namanya sukarelawan ya mengabdi. Gaji pun tak tentu," ujarnya. Memilih di dunia usaha Eki pun ingin merubah paradigma mahasiswa kesehatan agar tak melulu berpikiran kerja di rumah sakit, puskesmas hingga PNS. "Saya juga begitu dulu  bayangan pertama pasti PNS, kerja di rumah sakit atau puskesmas," paparnya.

     Padahal, kata dia, kondisi lulusan bidan dan perawan berbeda dengan dulu. Jika dulu setelah lulus ada kepastian kerja di rumah sakit dan masih kuarang tenaga medis. Tapi sekarang lapangan pekerjaan dan jumlah lapangan pekerjaan dan jumlah lulusan ilmu kesehatan tak sebanding," ujarnya.

     Bahkan, kata dia, tak sedikit teman-temannya kerja di perbankan. Sehingga ini jadi bukti tak selamanya lulusan ilmu kesehatan kerja di rumah sakit. Menekuni bisnis di bidang keilmuannya juga tak salah. Terlebih lagi itu adalah potensi lulusan ilmu kesehatan," Kan tak semua orang itu tahu ilmu kesehatan," jelasnya.

     Sukwan di puskesmas pun tak jelas kapan diangkat jadi pegawai. Jika ingin kerja di puskesmas atau rumah sakit alangkah baiknya menyiapkan diri mengikuti tes PNS. "Persiapan yang matang ikut PNS, itu lebih baik," ujarnya.

     Perempuan asal Badean ini menjelaskan di Bondowoso tak seperti di kota-kota besar. Jika dikota besar banyak rumah sakit swasta tak kalh dengan kualitas rumah sakit pemerintah, sedangkan di Bondowoso rumah sakit swasta sedikit. Membuka usaha di bidang kesehatan tersebut juga mendapatkan manfaat lebih bagi rekan satu profesi. "Ya paling tidak mereka bisa magang dan belajar untuk mahasiswa ilmu kesehatan. Sehingga setelah mereka lulus ada pandangan membuka usaha juga menguntungkan," pungkasnya. (hud/wah)


Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Senin, 5 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar